Posted by: pongki | March 24, 2008

Press Release Konfrensi BEM se-Indonesia

BEM SELURUH INDONESIA (BEM SI)

Kontak : Syahrul (PO) 08561559100

Koordinator Pusat, CP: Budiyanto (085225502939)

Email: bem-si@yahoo.com

Siaran Pers

23 Maret 2008 Untuk diinformasikan segera

KONFERENSI BEM SELURUH INDONESIA (BEM SI)

Tahun ini genap sudah 10 tahun reformasi 1998 berjalan, dengan harapan terbesar dapat mengembalikan pemerintahan seperti apa yang diamanatkan oleh UUD 1945 sehingga tercipta perubahan bangsa menuju keadilan sosial dan kedaulatan bangsa Indonesia seutuhnya. REFORMASI BELUM SELESAI ! Saatnya BANGSA INDONESIA bangkit, tanpa membesar-besarkan perbedaan pandangan dan ideologi, membangun sebuah gerakan yang konstruktif dan solutif untuk menjawab permasalahan bangsa.

Menyikapi hal tersebut, BEM SELURUH INDONESIA (BEM SI) mengadakan Konferensi BEM SELURUH INDONESIA (BEM SI) yang telah dilaksanakan pada Jumat-Minggu, 21-23 Maret 2008 di Depok, Jawa Barat. Masalah-masalah yang dibahas oleh peserta konferensi terfokus pada permasalahan-permasalahan fundamental, mendasar, dan mendesak untuk diselesaikan sebagai wujud bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dan berdaulat seutuhnya.

Reformasi belum selesai, dan substansi reformasi belum tercapai. Dengan demikian, kami menyatakan bahwa cita-cita reformasi baru tercapai apabila Tujuh Gugatan Rakyat (Tugu Rakyat) terpenuhi.

-more-

TUGU RAKYAT (TUJUH GUGATAN RAKYAT)

  1. Nasionalisasi aset strategis bangsa.
  2. Wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang bermutu, terjangkau, dan merata bagi seluruh rakyat Indonesia.
  3. Tuntaskan kasus BLBI & korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya sebagai perwujudan kepastian hukum di Indonesia.
  4. Kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi dan energi.
  5. Menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat.
  6. Tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan.
  7. Selamatkan lingkungan Indonesia dan tuntut Lapindo Brantas untuk mengganti

rugi seluruh dampak dari lumpur Lapindo.

Demikianlah pernyataan sikap yang telah kami rumuskan bersama dengan keyakinan membawa perubahan ke arah yang lebih baik bagi bangsa Indonesia. Pernyataan ini adalah salah satu titik perjuangan kami dan komitmen atas pernyataan ini akan kami pegang teguh sebagai landasan perjuangan mewujudkan Indonesia yang lebih baik. Tidak ada yang dapat menghentikan langkah kami selain Tuhan memutuskan jasad kami terbujur kaku di bumi pertiwi demi bangsa yang kami cintai.

HIDUP MAHASISWA !!

HIDUP RAKYAT INDONESIA !!

Depok, 23 Maret 2008

Atas nama BEM SI

Koordinator Pusat BEM SI

Budiyanto

 

-more-


Lampiran

Anggota BEM SI:

BEM ST FARMASI BOGOR, BEM UBL, BEM IPB, LEM APP, BEM STMI JAKARTA, BEM PNJ, BEM ITB, BEM AKA, BEM UI, BEM IT TELKOM, BEM UNJA, BEM UNSRI, BEM UNJ, BEM UIR, BEM POLINELA, BEM STT Tekstil, BEM STIE Bisnis Indonesia, BEM UNISMA, BEM UNTAN, BEM SEBI, BEM UNS, BEM UNPAD, BEM UPI, BEM ITS, BEM UNILA, BEM UNY, BEM UNRI, BEM UNAIR, BEM UGM, BEM TRUNOJOYO, BEM STMIK DIPA MAKASAR, BEM UNIB, BEM UPI.

 
 

Responses

bos itu film fitna dari belanda menghina islam banget tolong temen-temen demo dong masa mau lo diinjek2 kayak gitu

aq anak unnes smg, kebetulan jg aq ikut dalam bem…gini…kami anak bem dari semarang jg pngen ikut keg besar palagi to bem SI, g berarti kami dari desa truz g th perkembangan yang terjadi kan???????

bem payah tuntutan macam apa itu? bahasanya melangit gimana mau dapat dukungan rakyat…
sekarang nih sederhana aja tuntutannya TURUNKAN HARGA dah itu aja pada ngerasa sih lo pada skrg tuh susah apa anak ui dah kaya2… ngemeng sok keren aja…

skrg bnyk orang mati kelaparan dan yang namanya tuntutan jangan bynk2 biar infonya nyampe kerakyat dan fokus seperti aktivis 65 cukup TRITURA.. goblok bgt sih loh jangan keren2an deh… dari blbi sampe harga mau yang mana lo sebenarnya

orang-orang tuh sekarang dah ilfil ama kata reformasi lo anak psikologikan win harusnya ngerti kata2 reformasi dah nga laku lagi.. lo nga pernah kuliah ya makanya bego-bego kayak gini

kalo nyari simpati rakyat fokus dikata TURUNKAN HARGA ..skrg tuh harga dah gila bgt… nih buat info lo lo pada

barang 2007 2008
tepung 99.000 172.000
minyak g 5.000 12.000
telur 110.000 170.000
kedelai 1800 3800
minyak tanah 2400 7000
dll
lo punya nga sih data kayak gini apa emang lo lo pada nga pernah kelaparan…. bener2 mahasiswa skrg nga sensitif yang ada sok keren-kerenan… kelaut aja deh lo…

kalo dari gaya pernyataan lo tuh mirip pola pikir anggota dewan yang sok berjuang demi rakyat padahal cuman nyari keren-kerenan doang jadi skrg mahasiswa dah kayak anggota DPR karena memang dari awal lo memang pengen jadi kayak merekakan dalam hati lo yg paling dalam…..

ah udah ah skrg emang nga ada yang bisa diharapkan….

Salam,

Salut atas upaya kawan2 mahasiswa dan tercetusnya TUGU RAKYAT, khususnya gugatan nomor 7, yang secara langsung berkaitan dengan nasib kami, korban lapindo. Meskipun terkesan terlambat (setelah hampir 2 tahun bencana ini berlangsung), tapi kan better late than never tho?

Berkaitan dengan TUGU RAKYAT poin 7 tadi, saya ingin menanyakan :
1. Apa langkah konkret yang sudah/akan direncanakan untuk mewujudkannya?
2. Masih berkaitan dengan hal ini, bagaimana kalau perwakilan BEM SI saya undang untuk datang ke Pasar Baru Porong, basis perjuangan warga korban lapindo, sehingga kita bisa saling mengenal dan berbagi program aksi, sekaligus kawan2 mahasiswa bisa memberi suntikan semangat kepada perjuangan kami?

Layar sudah berkembang, pantang surut sampai ke tujuan. Mahasiswa Indonesia, korban lapindo menunggu perjuanganmu!!!

Salam dari Sidoarjo,

korbanlapindo

korban.lapindo@gmail.com
korbanlapindo.blogspot.com

BEM SI, konkretkan kontribusimu bagi bangsa!! Kalau hasil dalam setiap pertemuannya cuma MENOLAK INI, MENOLAK ITU, MENUNTUT INI, MENUNTUT ITU doang, rasanya tidak ada yang istimewa dari BEM SI. Kalau hanya mengeluarkan statement semacam itu, siapapun bisa.
Terkait aksi2 yg masih (saja) kerap dilakukan anak2 BEM, komen saya:
Zaman sekarang sudah berkembang. Masihkah orasi & demo di jalanan efektif untuk menyampaikan opini? Jadilah mahasiswa yang LEBIH CERDAS & KREATIF dari hari ke hari.
Mending buat program2 konkret buat masyarakat. Banyak mahasiswa individual yang telah mengadakan program2 konkret bagi masyarakat, tapi mereka tidak besar mulut. Tidak seperti BEM SI yang bikin statement dikit langsung gembar-gembor ke sana-sini, langsung demo ke jalanan, bikin masyarakat makin pusing!
Maaf ya kalau straight to the point…

HEH..Andri!!!(yang ngasih comment di atas), lo sendiri udah ngapain???tugu rakyat itu masih punya turunan yang isinya itu termasuk “mendesak pemerintah untuk menurunkan harga pangan” termasuk AKSI Kepung Istana tgl 16-17 April kemaren adalah salah satu bentuk realisasi dari tugu rakyat dengan pengkhususan untuk ngingetin pemerintah akan kedzaliman mereka pada rakyat, udah tau rakyat masih kekurangan pangan, tapi malah mau ngimpor beras!!!
Heh Andri, makanya buka mata, telinga, jangan berpikir sempit tentang pergerakan mahasiswa di UI. Kalau memang merasa punya pemikiran yang bagus, bertindaklah walau sekecil apapun! tidak kontribusi yang tidak bermanfaat selama lo melakukannya dengan HATI….
Semoga pemikiran kritis lo bisa terjaga dan bisa menjadi pemicu buat lo sehingga lo bisa menjadi orang yang bermanfaat, paling tidak bagi diri sendiri dan akan lebih baik jika untuk orang2 di sekitar lo juga…salam kenal
(comment ini juga gue tunjukkin buat Fik)

Semoga bukan sekedar kata2 indah, semua menanti, menunggu bukti……………………….

Jadilah manusia yang bermanfaat bagi manusia lain.

Respon bagus saya lihat dari anak2 UI dalam mengejewantahkan cita-cita reformasi. Saya termasuk salah satu peserta (UGM team) di Konferensi Depok kemarin melihat dibutuhkannya pewacanaan lebih masif artinya “booming issue” harus dilakukan mendekati hari H. Usahakan masyarakat luas dapat mendengar teriakan mahasiswa kali ini, jangan hanya ’show off’ aja. Yang paling ditekankan adalah substansi perjuangan. TUGU Rakyat merupakan bentuk optimisme dalam merebut masa depan Indonesia lebih baik. Masyarakat dalam kebimbangan luar biasa dalam menghadapi krisis kepemimpinan Indonesia. Untuk itu sebagai ‘watch dog’ pemerintah, lantangkan suara kita bersama.

kapan lagi konferensi BEM SI ? sekarang - sekarang ini ‘kan lagi momentumnya mahasiswa, ayo kita tunjukakan pada dunia tentang jati diri mahasiswa. karena di tangan pemudalah arah bangsa ini di genggam.

[...] press release mengenai hal ini ada disini. [...]

ass.. Kami dari BEM STT PLN akan turut terus ikut dalam aksi2 menuntut TUGU RAKYAT tapi yang kami sesalkan kenapa BEM STT PLN tidak tertera di blog ini menjadi anggota BEM SI. padahal kita terdaftar. terimakasih.

ada harum yang terurai dari setiap perjuangan…
meski kita mengerti akan arti pengorbanan,
tapi kita tak kan pernah mengerti makna penderitaan,
luka rakyat yang mesti diobati, bukan dikhianati…
tetaplah teguh berjuang rekan-rekan…
mengertilah dengan empatimu, bertindaklah dengan hatimu…
biar Tuhan yang menilai, tetes pujian tak berarti, derasnya kritikan, buat kita lebih teguh berjuang…
terus berjuang sepenuh hati dan berkontribusi,
jangan tinggalkan saudara-saudaramu yang ingin ikut serta berjuang, melangkah beriringan lebih indah dibanding berlari sendirian…

kawan ………..haru perjuangan kini akan kita temukan dalam realita tidak hanya dalam kata yang sering kita ucap atau kita dengar ,
perjuangan sebenarnya akan kita hadapi tidak sekedar mengedepankan eksistensi
yakin akan makana yang lebih mendalam adalah kunci kemurnian perjuangan kita

aslm. apa yang terjadi sekarang adalah buntut dari setengah hatinya perjuangan ini kita mulai. power of street pada zaman sekarang harus di dukung pada power of sytem, kenapa? dengan adanya power of system ini kita dapat mengiring dan menjaga amanah reformasi tersebut.

bem unri

Tetap Berjuang!

salam kenal..
iLai Teknik Industri ITB 2004..
gw ga tau apakah KM ITB merupakan anggota juga dari BEM SI..

sudah 100 tahun kebangkitan nasional, cuma gw sampai sekarang tidak pernah merasakan arti kata “kebangkitan”, faktanya minyak kita masih dijajah sampai sekarang..

“kalau kita punya minyak, jika harga minyak dunia naik seharusnya kita gembira, kalau sampai sedih itu berarti kita membeli minyak mahal, bukan menjual minyak. Mengapa membeli minyak mahal sementara sumber-sumber minyak di Indonesia banyak ?”

sebagai bahan pemikiran buat teman2 semua
bangkitlah Indonesiaku

karena kita MAHAsiswa….
karena itu bukanlah hal besar
ketika bertindak secara biasa…
…..
HIDUP RAKYAT INDONESIA….!!!!!

tyarin_ipo4 fisip unpad_bem kema unpad 89

jd pengen nulis lg…
y sbg ssama insan indonesia…
akur dulu..jgn di blog ini u saking jatuhkan..
fokus goal…!
enough…
smoga Allah tetap luruskan niat2 baik kita..
..
berpikir…berkata,,,bertindak..!!!!!!
dan TAWAKAL….

Paradigma Gerakan Mahasiswa Syarat Revolusi Massa

1. Mahasiswa adalah kelas menengah tercerahkan , antara rakyat kebanyakan dan negara, hasil seleksi dari suatu komunitas masyarakat urban. Konstituen, budaya, dan struktur yang berkembang di dalamnya punya konotasi ilmiah-rasional dan intelektualisme, sehingga ditempeli banyak emblem kesucian moralitas, kecendekiaan dan heroisme.

2. Potensi revolusionernya, mungkin karena masa pubertas mereka yang “gue banget!”, bisa menggoyahkan tatanan sosial-budaya bangsa. Lepas dari jelas tidaknya pandangan-dunia mereka, semua perilaku mereka menjadi elitis dan ya itu tadi, “ilmiah”. Sebagai misal, ketika masih pelajar, tawuran mereka adalah bagian dari ikatan group, dialamiahkan dalam istilah nakalnya anak muda. Sasarannya sesama pelajar. Setelah mahasiswa, sasaran beralih ke polisi dan disebut sebagai wujud radikalisme. Keren abis dah. Kalo pelajar dapat nilai jeblok, disebut bodoh. Bila mahasiswa dapat nilai D itu karena aktivitas. Jadi, kadang agak bias antara demonstrasi sebagai sikap peduli rakyat, karena bisa juga disebut emoh kuliah.

3. Apakah pada praktiknya nilai-nilai idealisme terintegrasi dalam tubuh aktivis mahasiswa atau tidak, perlu kita kritisi. Artinya banyak faktor yang membuat mahasiswa seperti itu. Sistem percepatan kuliah produk propaganda rektorat agar kampusnya bisa dicap sebagai lembaga disiplin. Lembaga disiplin tubuh bonafid yang bisa meluluskan mahasiswa dalam kurun waktu 3 tahunan plus embel-embel cum laude. Ditambah fenomena elit penguasa untuk menumpulkan kritisisme dengan harga masuk kuliah yang nyusahin ortu, plus tradisi keluarga yang stres kenapa anak mereka gak lulus-lulus/belum punya calon mantu, dan gurita kapitalisme global yang lebih menyukai tipe mahasiswa taat dan profesional-siap menjadi boneka pabrik, yang kudu link and match dengan dunia hasil rekayasa korporasi trans-internasional dan negara.

4. Lihat tubuh bongsor mahasiswa. Badan mereka membesar dan dewasa, jauh banget dibanding mahasiswa era baheula, tapi itu akibat suntikan hormon dan ekstraksi multivitamin ditambah makanan suplemen dan KFC. Tidak alamiah. Mereka juga besar dalam aksi jalanan, sebagai tanda “peduli” pada nasib bangsa dengan menjual air mineral gelasan, atau nongkrongin prempatan bawa bendera dan kardus indomie yang ada tulisannya “Kencleng Sumpah Pemuda.“ Semua itu adalah aktualisasi hasil lobi antar-senior almamater dan organisasinya. Jalanan rame, tapi penuh retorika kosong, emosi labil, miskin ide orisinil. Suka ngomong revolusi dan pakai bros Che Guevara di mal-mal dan kafe, tanpa ngerti paham betul apa itu “revolusi.” Gimana nyusunnya, gimana mimpinnya, pokoknya funky, asal beda dengan sikon sosial-politik sekarang, itulah revolusi. Absurd banget.

5. Maka tidak salah bila rakyat tidak ngerti omongan mereka. Sebab mereka bukan lagi berasal dari rakyat, melainkan jongos elit. Kalaulah mereka sempat menjadi aksesoris sebuah perubahan sosial, tiada satu pun dari mereka yang mengemuka sebagai ideolog. Mereka bisa gaul dan tidur bareng dengan penduduk (baik “tidur” beneran atau kiasan”) dalam KKN atau protes Saluran Listrik Tegangan Tinggi (SUTET). Sayangnya seperti Santa Claus, perilaku ekstra eksibisionis ini tidak menyentuh hati dan paradigma rakyat, melainkan sekadar mengubah dan menambah bentuk material, yang tadinya memakai sungai sebagai MCK, sekarang punya kakus, atau mengecat Masjid, membuat nama jalan, pokokknya sama deh sama karya manunggal ABRI alias AMD, ABRI masuk Desa. Memang tidak salah, sebagaimana juga Santa Claus, tidak salah membagi-bagi hadiah ke anak-anak.

6. Tapi lain soal ketika mendudukkan mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat dan kaum tertindas. Mahasiswa yang jauh dari massa rakyat ini jauh dari hati, semangat, bahasa dan penderitaan bangsa. Kita bisa kalkulasi seberapa banyak mereka fasih bicara soal tetek bengek kenegaraan ketimbang problem riil rakyat. Mengapa? Karena bicara kebijakan pemerintah adalah bicara kursi yang mempengaruhi periuk nasi elit. Kemampuan berbicara tentang struktur yang tidak ditopang dengan praksis (abstraksi ideologi yang bersentuhan langsung dengan perubahan sosial) hanya memproduksi aktivis salon, manekin solek dan penumpulan rasa.
Kalaulah muncul kesadaran tentang penderitaan rakyat, itu sifatnya temporer. Sama seperti masturbasi, kenikmatan sesaat hasil manipulasi kesadaran. Kenapa? Sebab tidak mungkin membela rakyat sambil asik makan Indomie, sedangkan sebagian besar rakyat menggantungkan hidup pada sawah-padi-beras? Padahal makan nasi jauh lebih bergizi dan sehat ketimbang makan sebungkus indomie. Harganya juga lebih murah kok.

7. Maka tiba masanya bagi kita untuk mendekonstruksi paradigma dan sikap kosong seperti ini. Kesalahan terbesar mahasiswa adalah malas: mengasah pemikiran, berdialektika dengan membaca dan diskusi, dan menyusun jaringan aktivitas. Ilmu tidak boleh dipahami sebagai wacana an sich, yang penting bisa lulus UAS, tapi dikritisi dalam praktis sosialnya.
Umumnya mereka ga sulit mau sadar berpikir sistem. Berpikir sistem itu adalah bagaimana menyusun program dan strategi ke depan. Wajar setiap LDK, LDKM Ospek, atau pembinaan di BEM-BEM dan KM-KM kampus cuma perulangan. Tidak ada curriculum yang jelas buat pengkaderan di Kampus. Beres jadi eksekutif, balik lagi kuliah. Padahal yang namanya BEM itu kerjanya luar biasa besar. Kalau kita mimpin BEM lalu bayaran kuliah terus naik, mahasiswa anggota ga dapat bea-siswa, atau pemilihan rektor masih sistem pengangkatan, mending BEM bubar saja. Jangan pernah berpikir mengatasi sistem negara yang bobrok kalau untuk masalah di kampus saja kita takut mengkritik Rektor.

8. Mahasiswa harus mempunyai kesadaran untuk membawa rakyat pada nilai-nilai transenden yang lebih luhur, lebih dari sekadar perubahan struktural dan material. Tapi sebelum sampai ke sana, mereka harus sabar membina diri menguatkan konsep berpikir-berdialektika-beraksi diri mereka sendiri. Jangan berkoar-kora soal negara dan dunia pabila kita tidak mau sedikit mengeluarkan keringat untuk mengasah logika dan memperkaya pisau analisa dengan banyak membaca buku. Apabila seseorang menetapkan bagi dirinya sendiri untuk mengadakan reformasi masyarakat dan mempengaruhi suatu perubahan sosial dalam masyarakat, maka ia harus berbeda dengan rakyat biasa. Ia tidak boleh memiliki kelemahan-kelemahan rakyat biasa. Kata sebuah hadis (buat yang Islam ) dikatakan: “Orang yang hendak menjadi pengurus rakyat, haruslah pertama-tama mendidik dirinya setelah itu mendidik rakyat. Seorang guru atau pelatih diri sendiri, lebih mulia dari seorang guru dan seorang pengurus bagi orang lain”. Revolusi bukan jamuan makan malam, atau diskusi-diskusi sambil pesen capucinno, plus kretek, sembari mengulang-ulang puisi-puisi Rendra. Puisi ga pernah bikin revolusi nak.

9. Selain itu mereka juga perlu mendekatkan diri dengan realitas masyarakat sebagai asal dan tujuan mereka menimba ilmu. Jujur saja, jika pendidikan kita disubsidi oleh rakyat. Yang tidak lain dan tidak bukan, adalah orang tua kita sendiri. Dari menyadari hal ini mereka baru bisa menjadi titik api, yang berfungsi sebagai sumber kehidupan yang membakar, mencerahkan dan menggerakkan rakyat.
Dengan pengetahuan kritisnya mereka seperti cahaya, terang dengan sendiri dan menerangi segala sesuatu [massa] di luar dirinya. Seperti dikutip dalam Kitab Vedanta “ Orang besar itu seperti lelaki yang mengusung pelita dalam kegelapan. Orang yang tidak memilikinya tidak punya pilihan lain kecuali mendekat dan mengikutinya tanpa pamrih”. Tinggal sekarang kita bicara hitung-hitungan waktu, mengutip ucapan Mao “Revolusi adalah momentum yang disusun dari seribu tahun pasukan yang dipergunakan pada sebuah pagi.”
Untuk menyusunnya kita perlu perubahan paradigma dan curiculum pengkaderan mahasiswa di internal maupun organisasi ekstra kampus yang memandai. Dimulai dengan membangun kesadaran berpikir dan menambah ilmu dengan banyak membaca, menyusunkebiasaan berargumentasi yang benar dengan belajar logika, dan ketrampilan praktis lapangan untuk bisa diterapkan dimasyarakat atau masa depan mahasiswa sendiri kelak.
Terakhir ada baiknya kita memindai ucapan Hatta, Bapak Pergerakan Kemerdekaan kita ketika mengkritik Revolusi Terpimpin-nya Soekarno, “Revolusi menggugurkan semua karat-karat, dan melonggarkan perbautan dari sistem. Setelah itu ia harus disusun kembali dengan segera!!.” Untuk itu revolusi butuh pandangan yang luas, dan wawasan yang padu. Revolusi bukan romantisme berleha-leha, revolusi adalah kerja. Tinggal masalah waktu kapan kita menuainya. Ayo bung![]

to adtya STKS Bandung, salut bung….!
yang disebut tuntutan harus tau dulu bagaimana tidur di pelataran jembatan….
yang disebut eksekutif…. tidak akan merasakan perut lapar rakyat….
yang disebut rakyat….tidak ngerti Tugu Rakyat, karena yang penting perut kenyang…
yang disebut revolusi….hanya slogan kosong kala demo masih ngisep rokok, minumnya Amerikanis, ngomongnya cas-cis-cus bule,…..yang disebelahnya rakyat masih pegang kaleng kosong minta seratus rupiah buat beli nasi bungkus….yang namanya ekesekutif malah ngusir sana lu…jijik..nggak pernah mandi…
yang namanya Maha..( itu sangat besar ) Siswa..( murid:kata Oemar Bakri )….malah bikin susah rakyat demo ke jalan bikin macet…usaha jadi susah kejebak macet….boro-boro mikir…nah perutnya udah kenyang….kuliah dibayar ortu…harga kos-an…sebulan sepadan ma BLT pemerintah…
yang namanya eksekutif…bukan jalanan sebagai parlemen tetapi solusi bagaimana ciptaiin bak sampah yang baik buat rakyat, panen padi bisa 5 kali setiap tahun, bisa ciptaiiin peralatan sederhana tapi bermanfaat…
yang namanya rakyat nggak ngerti bahasa buku…
yang namanya rakyat bagaimana setiap orang nyumbang 1.000 rupiah buat beli buku…( lumayan dari uang jajan kantin )
yang namanya rakyat sekarang perlu bukti bukan slogan….

Leave a response

Your response:

Categories